Selasa, 08 Januari 2008

Bisnis dan investasi baru,ramai-ramai bikin partai politik

R.Budi Hartono

Ramainya suara yang selalu membawa dan mengangkat derita dan aspirasi rakyat kecil banyak di suarakan oleh pelaku sepekulan politik, dinamika partai politik di Indonesia ini tampaknya membenarkan tesis hutington. Dia berpandangan, pembangunan politik, mesti melingkupi tiga aspek penting, yakni rasionalisasi kekuasaan, diferensiasi struktur, dan partisipasi massa*.

Mampukah Pemilu yang akan datang (2009) dapat menghasilkan perubahan mendasar dalam pembangunan politik di negeri ini, yang mencakup ketiga aspek penting di atas? Jawabnya tentu sejauh mana aturan main baru yang saat ini sedang dipersiapkan oleh para elite nasional yang sarat kepentingan tersebut dapat memihak kepada kepentingan tatanan kebangsaan yang lebih besar.

Dalam konteks ini, hampir semua kalangan intelektual yang masih berakal sehat memiliki pandangan yang sama bahwa penyederhanaan partai politik sebagai keniscayaan. Jika sistem proporsional tetap ingin dilestarikan dan kinerja partai politik ingin dimaksimalkan, bahwa sistem multi partai hendaknya semakin sederhana secara jumlah dan lebih kompetitif secara idiologis.

Untuk menyederhanakan jumlah sekaligus kompetitif secara idiologis, kita paling tidak mengambil strategi atau kebijaksanaan, minimal tiga langkah,yakni;
  • memberlakukan ketentuan ambang batas minimum perolehan suara untuk membatasi jumlah peserta pemilu.
  • pengaturan secara jelas dan transparan di dalam UU mengenai penggabungan partai sebelum pemilu dan koalisi partai sesudah pemilu (membingkai jumlah sekaligus idiologis).
  • ketentuan wajibsetor (deposit) dana sejumlah tertentu bagi partai-partai baru yang ingin menjadi peserta pemilu. Jika partai yang bersangkutan dapat memeroleh suara minimal setara ambang batas perolehan, maka dana tersebut dikembalikan. Sebaliknya, jika gagal meraih dukungan minimal tersebut, maka dana tersebut menjadi milik Negara.

Ketentuan ini akan merubah pandangan masyarakat awam politik, bahwa orang-orang berebut mendirikan partai karena untuk mencari hidup. Dapatkan realita ini diikhlaskan oleh para elite partai itu sendiri? Jika benar-benar tulus ingat rakyat,sebab semuanya itu apa bila kita meletakan pada moral sebagai landasan dalam melangkah maupun bertidak kita mempunyai tangung jawab terhadap rakyat dan Tuhan.

*hutington (2004:43)

Tidak ada komentar:

Google